PANTAI PANGANDARAN, iya itu adalah salah
satu pantai yang indah yang ada di Indonesia, tepatnya kurang lebih 92 km arah
selatan dari kota ciamis. Disanalah perjalanan backpakerku dimulai, atau lebih
bisa disebut liburan keluarga, karena aku pergi kesana bersama keluargaku. Tapi
tidak apa, karena impianku adalah berjalan-jalan mengunjungi banyak tempat,
banyak orang, lalu menuliskannya dan menuangkannya kedalam sebuah tulisan yang
dimana nantinya akan menjadi salah satu memory memory perjalanan hidupku.
Tidak banyak yang aku lakukan disana,
dikarenakan kebiasaanku yang suka jet lag
bila berpergian jauh –entah apakah aku pantas menjadi backpacker atau tidak-
namun ada beberapa tempat yang sempat aku kunjungi disana sebelum aku terkulai
lemah di kasur yang nyaman di penginapan.
Tempat pertama yang aku kunjungi tentu
saja adalah pantainya, pantai Pangandaran di sore hari yang memancarkan
keindahan tiada tara sepanjang mata memandang, suara deburan ombak, desir pasir
pantai, suara riang orang-orang yang sedang bermain di pantai dan dilaut, suara
mesin kapal nelayan, semua itu membuat hatiku tenang. Aku coba menelusuri
pinggiran pantai, disitu aku mendapatkan kepiting kecil –entahlah apa itu nama
aslinya- yang sedang berjalan menyamping lalu menggali lubang untuk
menyembunyikan dirinya, lalu sisa-sisa kerang laut, serpihan karang yang
terbawa oleh ombak, dan pastinya air lalut yang membuat kakiku terombang-ambing
di pesisir pantai –atau pesisir laut ?-
Sesampainya di ujung pantai –memangnya
ada ujungnya ?- aku menaiki perahu nelayan yang menawarkanku untuk
melihat-lihat taman bawah laut yang di dalamnya terdapat karang-karang nan
indah, ikan-ikan laut yang berenang kesana kemari, dan anemo-anemo yang
bergoyang-goyang karena ombak –emang ada ya ?-. Lalu setelah dari taman bawah
laut aku menuju pantai pasir putih, disana terdapat kumpulan kera-kera atau
kalian boleh menyebutnya teman-teman lamaku yang sedang bermain, lari kesana
kemari, menjahili wisatawan –siapa yang ngajarin jail ?- dan tetntunya
pasir-pasir yang berwarna putih. Setelah itu aku melanjutkan perjalanan menuju
goa jepang dekat pantai pasir putih lalu menuju kedalam hutan dan disana aku
menemukan seekor rusa yang sedang menyeberang jalan lalu bersembunyi di dalam
semak semak, lalu menuju goa lanang yang ternyata di goa lanang itu jika
memotret tidak boleh memakai sandal tetapi harus memkai kamera –ya iyalah !!-
dan katanya di goa lanang itu terdapat skalaktit-sklaktit yang berada di
langit-langit gua, namun aku tidak sempat pergi kesana dikarenakan sudah sore dan
aku mulai lelah.
Setelah berlelah-lelah berjalan-jalan di
dalam hutan, aku pun keluar dari hutan dan melanjutkan perjalanan untuk kembali
ke penguinapan, di dalam perjalan pulang aku menemukan orang yang sedang
dikubur di pasir dengan wajah yang menghadap ke langit namun tidak ikut
ditutupi leh pasir, dalam benakku aku ingin bertanya kepada teman-temannya yang
sedang berada di samping orang yang sedang dikubur didalam pasir “Bolehkan aku
melangkahi orang ini ?”, namun pastinya aku tidak menanyakan dan melakukan hal
itu, pastinya itu hal yang sangat bodoh. Dan saat itu tepat pada waktu dimana
matahari akan tebenam, niatku untuk beristirahat ke hotel pun batal, akhirnya
aku duduk di pinggiran pantai beralaskan sandalku yang aku teteng-teteng saat
pertama kali datang ke pantai. Aku pun menunggu saat-saat dimana matahari
terbenam atau istilah kerennya SUNSET itu tiba. Dan memang benar, sunset itu
memang benar-benar indah, sangat indah, aku pun tidak dapat menahan lengkungan
senyum yang menyerang di bibirku. Dan suatu saat, aku akan melihatnya bersama
orang-orang yang aku sayangi.
Terima kasih Pangandaran Beach.
Komentar
Posting Komentar